Rasanya saya juga ingin mengundang Ms Polly menginap di rumah …
Polly Milton, gadis desa yang sederhana menginap di rumah sahabatnya di kota, Fanny Shaw. Dia merasakan hal yang berbeda di rumah keluarga Shaw. Sikap masing – masing anggota keluarga yang tidak saling berbuat baik dan bersabar satu sama lain, membuatnya tidak nyaman. Dibesarkan dalam keluarga yang terlalu banyak cinta, membuatnya begitu mendambakan hal yang sama dalam rumah Fanny.
Polly mewarnai keluarga Fanny. Dia melakukan yang terbaik untuk mencintai, melayani, dan menopang yang lain. Dengan kemauan keras, hati yang lembut, cara- cara yang membantu, dan perilaku sederhananya membuat ia disayang semua orang.
Cerita dalam novel ini terus berkembang dengan konflik romansa yang berakhir apik. Seperti kebanyakan tokoh utama dalam novel klasik, tokoh Polly dalam novel ini bisa menjadi patron bagi pembacanya, terutama gadis muda. Bagaimana semestinya seorang gadis bersikap dan berpenampilan tercermin jelas dalam karakter Polly. Dengan pembanding tokoh lain yaitu Fanny dan teman- temannya, pembaca bisa memetik pesan moralnya. Di samping itu pun, novel ini menjadi satu gambaran juga bagi orang tua tentang cara mendidik anak- anaknya.
Ada satu kutipan pendapat ibu Polly yang mengesankan “ Seorang pria sejati akan selalu sopan pada semua orang, entah pada gadis kecil ataupun pada wanita dewasa .“ Bukankah sering ditemui orang dewasa yang cenderung meremehkan anak kecil?
******
Awal saya ingin membaca novel ini, di samping karena saya penggemar novel klasik juga karena sangat penasaran. Setelah membaca review di blog , seperti apa sih gerangan yang ‘tega’ membuat mbak Truly Rudiono menangis Bombay….???? olala….finally I knew…ternyata tangisan Bombay itu sangat beralasan ..!
Gaya bahasa terjemahannya menghilangkan suasana klasik di novel ini. Dialog- dialog tokohnya yang menggunakan gaya remaja sekarang, seperti penggunaan kata biarin, maksain, kayak, terasa tidak pas dengan latar ceritanya. Penggunaan kata ganti ‘aku’ saat Polly berbicara dengan nenek Fanny pun terasa kurang sopan diucapkan oleh seorang gadis yang dikisahkan memiliki adab sopan santun tinggi.
Di awal cerita, imajinasi saya juga sempat dikacaukan dengan penggunaan kata taksi yang dalam bayangan saya adalah sebuah mobil seperti di zaman sekarang. Ketika Tom berkata “ Yah, kelihatannya sih sopirnya mabuk, tapi aku yakin dia masih sanggup mengendalikan kuda- kudanya.” Ternyata taksi ini semacam kereta kuda yang dipergunakan sebagai angkutan sewaan. ( Jadi penasaran juga dengan versi bahasa aslinya )
Pada akhirnya, I just wanna say great big thank for Mbak Truly Rudiono, yang sudah berbaik hati berbagi buku ini. Dengan senang hati selalu dinantikan tawaran- tawaran berikutnya…:D…J …
Penulis : Louisa May Alcott
Terbit : Cetakan pertama, Oktober 2010
Tebal : 424 hal
0 comments:
Post a Comment
thx for your comments..:)