Pages

Sunday, June 10, 2012

Sepatu Dahlan


“Pilih ngendi, sugih tanpa iman opo mlarat ananging iman?” Dengan tegas aku menjawab
“ Sugih ananging iman, Pak.” (hlm.31 )


Dahlan kecil kenyang bergaul dengan kemiskinan. Kemiskinan yang menyajikan banyak keterbatasan. Rasa perih karena lapar. Lecet dan melepuh di kaki yang tak bersepatu demi menuntut ilmu. Ngangon domba, nguli nandur, nguli nyeset, hingga menjadi pelatih voli anak- anak juragan tebu dijalani . Padahal tidak terlalu banyak yang diimpikannya. -Hanya sepatu dan sepeda-.  Tapi sepertinya itu adalah barang mewah yang butuh banyak perjuangan untuk mendapatkannya.  



…kemiskinan bukan halangan untuk mereguk ilmu sebanyak mungkin…Tuhan selalu mengabulkan doa orang-orang yang memiliki keyakinan dan kemauan yang kuat untuk mewujudkan harapan. ( Petuah Ustaz Ilham,hlm.  37 )

Ya, berdamai dengan kemiskinan . Itulah satu-satunya tindakan logis yang bisa dilakukan. Pasrah tapi tidak menyerah. Kegembiraan masa kecil tetap bisa dirasakan. Percaya Gusti Allah ora sare. Cukup buku catatan yang menampung semua gejolak rasa.

Bagiku, menulis tak ada bedanya dengan obat, menyembuhkan luka akibat sayatan kepedihan.(hlm.80)

Walau ada kalanya semua terasa berat dan menyiksa. Adakalanya tergelincir melakukan hal yang dilarang-Nya. Tapi iman tidak pernah hilang dan disiplin selalu ditanamkan.

“Ojo wedi mlarat. Yang penting tetap jujur!” ( Mbak Sofwati,hlm.109)

“Disiplin itu lahir dari kemauan dan kesungguhan kalian sendiri, bukan dari peraturan atau ketegasan guru-guru dalam menegakkannya.” ( Ustad Ilham,hlm.105 )

Tak heran , walau dalam belitan kemiskinan  prestasi tetap dapat ditorehkan. Walau tanpa sepatu, posisi kapten tim bola voli dipegang. Pengurus ikatan santri pun disandang. Dua syarat ‘kepemimpinan dipenuhinya.

“ Pertama, santri tu harus tawaduk,harus rendah hati. Terpilih menjadi pemimpin bukan berarti menjadi penguasa yang berhak memerintah sekehendak hati, melainkan menjadi pelayan bagi orang-orang yang dpimpinnya. Kedua, harus tawakal. Dunia ini persinggahan semata. Jabatan adalah amanat yang dilimpahkan kepada kita, kelak akan dimintai tanggung jawab. Menjadi pemimpin bukan untuk gagah-gagahan atau cari pamor. Siapa pun yang terpilih harus siap bekerja. “ ( Kiai Irsjad,hlm.158  )

Melalui  novel setebal 369 ini, Khrisna Pabichara berhasil menyuguhkan kisah yang menginspirasi dan dapat dinikmati. Banyak filosofi Jawa dan Islam mewarnai. Bukan sekedar fiksi semata. Ketika kita menengok dunia nyata, tokohnya memang ada. Ya, Dahlan Iskan . Menteri BUMN Republik Indonesia. Bos Jawa Pos group, mantan Dirut PLN. Media massa kerap menyorot beliau. Sosok yang berpembawaan sederhana dan merakyat – lebih suka bersepatu kets-. 


Ketika sekarang dunia pendidikan sedang berkutat dengan kurikulum pendidikan karakter, novel seperti ini sangat pas sebagai penunjang. Saya sarankan : perbanyaklah koleksi perpustakaan dengan novel- novel semacam ini. ‘Paksa’ murid untuk mau membaca  serta  mengambil hikmahnya. 


Bukan, bukan  maksud saya mengiklankan novel ini . Umumnya, novel lebih diminati daripada  teks book. Novel lebih bersifat menghibur. Jadi, ketika kita ingin menyampaikan nilai- nilai tertentu tanpa berkesan menggurui atau memaksa atau mendoktrin ,lewat ceritalah jalan keluarnya. 


Sebuah novel yang mampu membuat pembaca larut dalam ceritanya, berkembang imajinasi karena kuatnya deskripsi, lebih kuat pengaruhnya bagi emosi jiwa pembaca. Alhasil, kalau yang disisipkan dalam novel tersebut  adalah nilai- nilai yang luhur tentu pengaruh positif jugalah yang tersematkan.

Judul   : Sepatu Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Tebal   : 396 hlm.
Terbit  : Cetakan 1, Mei 2012
ISBN    : 978-602-9498-24-0




2 comments:

Langit Buku said...

Blom sempet baca buku ini... masih banyak hutang buku yg belom terbaca...
izinkan saya mencantumkan nama mba yayun dalam sahabat buku di blog saya ya mba...
terimakasih

Yayun Riwinasti said...

oke, terima kasih kunjungannya...:)

Post a Comment

thx for your comments..:)