Pages

Wednesday, July 18, 2012

Orang Miskin Harus Sekolah


Beberapa waktu lalu, seorang siswi  ditemani  bapaknya menghadap kepala sekolah. Siswi tersebut berniat mengundurkan diri dari sekolah dengan alasan ketidakadaan biaya. Bapaknya hanya seorang buruh  tani, dengan  beberapa anak lain yang harus dibiayai juga. Dengan hati miris, seketika saya teringat novel ini. Sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata. Saya ingin sekali siswi tersebut membacanya. 


Berkisah tentang gadis kecil bernama Mayan. Anak sulung di keluarga miskin yang tinggal di daerah  Zhangjiashu ,Cina. Wilayah ini merupakan salah satu  daerah yang mengalami desertifikasi akibat kebijakan penguasa – Mao Zedong – dalam era  kegilaan, atau yang dikenal dengan ‘ lompatan jauh ke depan’. Pada masa itu beberapa desa di China diubah menjadi  tungku peleburan besar demi meningkatkan produksi baja. Semua pohon ditebang tanpa ada perencanaan untuk ditumbuhkan kembali. Akibatnya, hingga kini  -setelah  empat dekade dari masa itu -  dampak perusakannya  masih terus dirasakan.  

Mayan dan keluarganya merasakan  betapa beratnya kehidupan mereka yang hanya menggantungkan pada sepetak ladang yang jarang menghasilkan,  seiring dengan hujan yang tidak pernah turun lagi. Dalam situasi tersebut, ada kesadaran dalam diri Mayan , bahwa hanya pendidikanlah yang dapat mengubah nasib mereka. Dengan ilmu yang dimiliki , nasib keluarganya dapat diperbaiki.  Keyakinan ini demikian kuat, dan terus didukung oleh orang tuanya terutama ibunya yang buta huruf. 

Dengan sekuat tenaga orang tua Mayan menabung yuan demi yuan demi menyekolahkan Mayan dan adik- adiknya. Meskipun demikian, uang  yang berhasil diperoleh tidak pernah cukup untuk semuanya. Mayan sering harus berjalan kaki sejauh 20 km karena tidak punya uang untuk naik angkutan. Rasa lapar adalah rasa yang paling dikenalnya terutama saat dia  harus menabung untuk membeli peralatan tulis. Bahkan, Mayan juga dihadapkan pada garis pembatas yang ada di lingkungannya, bahwa hanya anak laki- laki yang umumnya bisa ke sekolah. 

Dalam hal taraf hidup, mungkin siswi yang saya sebutkan di awal tadi masih lebih baik dibanding Mayan.  Lalu, mengapa siswi tersebut memutuskan untuk menyerah?  Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya keyakinan yang kuat bahwa pendidikan merupakan kunci pembuka masa depan yang lebih baik.  Sikap skeptis tersebut  memang rentan muncul, mengingat pada kenyataannya di Indonesia , jumlah pengangguran terdidik semakin meningkat.

Namun, bukan berarti saya membenarkan tindakan siswi tersebut.  Saya sungguh menyayangkan. Apalagi, sekarang  tawaran bantuan untuk siswa miskin atau beasiswa sering ada. Saya sendiri, masih sangat yakin bahwa sekolah merupakan kunci sukses untuk masa depan. Ilmu / keterampilan yang diperoleh dari sekolah, ditunjang dengan keyakinan, usaha dan doa yang sungguh – sungguh merupakan tiket menuju keberhasilan.
Berkaca dari sosok Mayan, saya mengharap siswi tersebut mendapat suntikan semangat dan keyakinan untuk dapat menaklukkan kemiskinan yang membelitnya. Oya, saya senang pihak sekolah cukup bijak menanggapi pengunduran diri tersebut. Yang penting semangat belajar, urusan biaya bisa dimusyawarahkan. Seperti kata wong Londo, ‘if there’s  a will, there’s a way. ‘ Yakinlah…!!!
 
NB : Jika sudah membaca buku ini dan penasaran dengan nasib Ma Yan selanjutnya bisa membuka  http://en.wikipedia.org/wiki/The_Diary_of_Ma_Yan 

Judul     : Ma Yan
Penulis : Sanie B. Kuncoro
Penerbit              : Bentang
Tebal     : viii + 214 hlm.
Edisi : Cetakan 5, November 2009
ISBN      : 978-979-1227-50-6

2 comments:

nannianest said...

miris kl tau ada anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya

Yayun Riwinasti said...

iya mbak, lebih miris lagi ada yang menyerah krn 'kurang mampu' ditambah dengan minderan...

Post a Comment

thx for your comments..:)