Pages

Thursday, December 15, 2011

Raise the Red Lantern- Persaingan Para Istri


“ … Semua wanita ingin ikut dengan orang kaya.” ( Chen Zuoqian ,hal 32 )
“… Ketika orang kaya menjadi semakin kaya, dia menginginkan wanita,begitu menginginkankannya sehingga dia tidak akan pernah cukup.” ( Teratai, hal. 32 )

 

Alasan Teratai menikai Chen Zuoqian setelah menghabiskan satu tahun kuliah sangatlah sederhana. Pabrik teh ayahnya bangkrut, dan ayahnya tidak mampu membayar uang kuliahnya. Tragisnya lagi, ayahnya bunuh diri tiga hari setelah dia berhenti kuliah. Teratai sadar sepenuhnya, tidak ada pilihan  baginya selain menikah dengan orang kaya. 


Teratai yang cantik, muda dan terpelajar memasuki babak baru dalam kehidupannya. Sebuah dunia kecil yang berbeda 180 derajat dari dunianya sebelumnya.






Teratai dinikahi oleh Chen Zuoqian yang berusia 50 tahun sebagai istri keempat. Sebuah pernikahan yang dijalankan dengan cara setengah rahasia. Sehari sebelum Teratai tiba di pintu gerbang, istri pertamanya, Sukacita, masih tidak mengetahui apapun tentang hal itu. Ketika akhirnya diperkenalkan, tidak sekalipun dia menatap Teratai . Sukacita berusaha mengabaikan keberadaan Teratai.

Sambutan hangat justru didapat dari istri kedua, Mega. Pelayannya segera menjamunya dengan semangka, bunga matahari, biji labu dan beberapa manisan buah. Rona wajah Mega punya semacam kehangatan dan keanggunan yang lembut meskipun sudah tampak keriput kecil dan kendur. Teratai menduga, Chen sangat mencintai Mega.


Istri ketiga , bernama Karang. Seorang mantan pemain opera yang konon memiliki kecantikan fisik luar biasa. Pada saat itu bahkan Karang tidak bersedia mengizinkan Teratai memasuki kamarnya. Di kemudian hari, Teratai sering mendapati Karang mengenakan pakaian operanya dan bernyanyi di bawah pohon wisteria . Sebuah tempat yang sepi dan sejuk, namun menakutkan karena terdapat “sumur kematian .“  





Sebagai istri muda, Teratai cukup dimanjakan oleh Tuan Chen. Hal ini membuatnya terseret intrik para madunya.  Mulai dari sekadar pertikaian verbal, fitnah memfitnah, hingga penggunaan ilmu hitam. Mampukah Teratai yang terpelajar keluar sebagai pemenang? Atau justru akhir tragis yang menimpanya?  Akan jauh lebih menarik jika Anda membacanya sendiri.

Sudah menjadi kultur masyarakat tradisional Tiongkok yang menganut paham patrilineal yang kuat, kedudukan sosial anak perempuan  lebih rendah. Perempuan itu harus tunduk dan menurut  . Seorang istri hanyalah “hak milik” suaminya. Semakin dia diminati suami, kedudukannya dalam keluarga akan semakin kuat, dan begitu juga sebaliknya. Jika suami tidak berkenan lagi, kedudukannya bahkan bisa lebih rendah daripada seorang pelayan. “Kesuksesan” seorang istri  ditentukan oleh jumlah anak, terutama anak lelaki, yang ia lahirkan. 

Novel ini mengangkat sisi kehidupan  wanita China dibalik balutan gaun sutra dan perhiasan  indah yang dikenakannya. Judul asli saat  pertama kali diterbitkan tahun 1990 adalah Wives and Concubines. Judul Raise The Red Lantern mulai digunakan setelah kesuksesan filmnya yang disutradai oleh Zhang Zimou, dengan pemeran utama aktris gaek China, Gong Li. Judul ini diambil dari salah satu adegan  pemasangan lampion merah setiap malam di depan kamar salah satu istri Tuan Chen yang akan dikunjungi olehnya. Detail cerita dalam filmnya sendiri sedikit berbeda dengan novel ini. Hal ini memang sering terjadi juga pada novel- novel lain yang difilmkan.




Penulisnya adalah Su Tong dengan nama asli Tong Zhonggui. Seorang sarjana sastra yang dikenal karena gaya penulisannya yang kontroversial. Pada 2009 , Su Tong memenangkan penghargaan Man Asia Literary Prize untuk novelnya The Boat to Redemption. ( *belum baca ) . Kemudian pada 2011, Su Tong dinominasikan meraih Man Booker International. Sebuah penghargaan bergengsi dua tahunan dengan hadiah uang 60 ribu pound atau setara dengan 8,4 miliar rupiah. 

Desain kover cetakan pertama edisi terjemahan bahasa Indonesia ini sangat menarik . Dominasi warna merah khas China, dengan gambar sosok wanita ( Teratai ) dan lampion yang dicetak timbul dan glossy  terkesan eksklusif.  

Membaca novel ini menjadikan saya merasa bersyukur terlahir sebagai wanita masa kini, dalam keluarga monogami, dan kultur masyarakat yang menghargai wanita dengan berbagai peranannya.   

Judul                    : Raise The Red Lantern- Persaingan Para Istri
Penerbit               : Serambi Ilmu Semesta
Penulis                 : Su Tong
Penerjemah          : Rahmani Astuti
Penyunting            : Agung Kurnia
Terbit                   : Cetakan I, November 2011
Tebal                   : 136 hal.

Gambar diambil dari :
www.wikipedia.org
www.ganool.com
http://paper-republic.org/authors/su-tong/


note : Review ini diikutkan dalam 2011 End of Year Book Contest dari blognya okeyzz.  
sesuai dengan salah satu ketentuan yaitu ada warna merah pada sampulnya.  

5 comments:

Ana said...

Berasa kaya nonton sinteron nih baca review ini.. hehehe.. detail dan bikin penasaran sihh :)
btw itu nama-nama istrinya emang senagaja diterjemahkan ya? rasanya nama asli China nya bukan Karang, Sukacita, Teratai dan Mega kan ya??

helvry said...

dan di Indonesia pun masih kebawa, pokoknya apa kata Papa, gitu...
#pengalamantemen

Esa Nugraha Putra said...

terimakasih telah mengunjungi blog saya. saya balik berkujung. blog yang sangat bagus dan penuh semangat.

okeyzz said...

Eh, baru aja mw komen "Itu cewek di cover kayak si Gong Li" tapi kayaknya emang beneran si Gong Li ya, secara dia yg main di filmnya :P

Yayun Riwinasti said...

@ana..hehe..terlalu detail ya...,itu cm bag awalnya.hmm..iya, nama aslinya bukan itu...

@helvry...yup...untungnya sekarang udah gak zamannya lg..:)

@esa...makasih, welcome here... :)

@okeyzz..hihi..malah gak kepikiran...kayaknya sih iya, tp kesannya masih muda banget...

Post a Comment

thx for your comments..:)