Pages

Monday, November 21, 2011

Lelaki Lebah


Lelaki lebah. Judul novel ini menarik, di samping karena pilihan katanya berima juga menimbulkan tanda tanya, seperti apa sosok yang dimaksud dengan lelaki lebah ini. 


Novel ini berkisah tentang sosok pemuda piatu bernama Hafiz, keturunan asli Dayak Bakumpai, Kalimantan Selatan. Karena profesinya sebagai PNS,  Hafiz harus rela merantau ke Palangkaraya, meninggalkan tanah kelahiran dan ayahnya yang menderita stroke. Untungnya, ada Hafira sepupunya  yang ikhlas dan telaten menggantikan posisinya merawat ayah tercintanya.

Masalah demi masalah mulai timbul. Pertama saat Hafira akan menikah dan harus ikut suaminya ke Samarinda. Siapa yang akan merawat ayah Hafiz? Gajinya pas- pasan dan dia tidak ingin sembarangan mencari perawat. Dia menginginkan orang yang sudah dikenal, atau minimal ada yang merekomendasikan. 


Masalah datang lagi saat tiba- tiba ayahnya terkena usus buntu, dan harus dioperasi dengan biaya yang tidak sedikit. Pertolongan Allah datang  melalui orang- orang baik di sekitarnya. Kantor tempatnya bekerja bersedia meminjamkan uang tanpa bunga. Latifah, gadis manis yang dia kenal dalam perjalanan dari Banjarmasin juga tak segan untuk membantu. Hingga ayahnya dapat diselamatkan. 

Namun, hutang uang harus dibayar. Gajinya yang sudah pas-pasan terpaksa harus dipotong per bulan. Hafiz pun memutuskan untuk kerja sampingan sebagai kuli bangunan. Keputusan ini ditentang keras oleh Carmen dan Mariana. Dua gadis cantik dan kaya yang diam- diam menaruh rasa pada Hafiz. Tapi sebaliknya, Latifah justru mendukung. Baginya , kerja apapun asalkan halal tidak menjadi soal. Tentu saja hal ini menambah semangat Hafiz, dan membuatnya  terpikat pada Latifah.

Hafiz tidak ingin terjatuh dalam maksiat, dan dengan mantap dia meminang Latifah untuk menjadi istrinya.  Tanpa dia duga, ternyata ada masa lalu gadis ini yang belum diketahui Hafiz. Padamkah tekad Hafiz untuk meminang Latifah ?

Tokoh Hafiz  ini  sedikit banyak mengingatkan saya pada tokoh Fahri dalam Ayat- Ayat Cinta. Sama- sama merantau, pintar, relijius, tampan, pandai bergaul dan menjaga perasaan orang, rela berkorban, dan sama- sama dicintai oleh lebih dari satu wanita. Hanya, pembaca harus sedikit bersabar, karena cerita dalam novel ini terasa datar, tidak ada konflik atau kejutan- kejutan yang benar- benar mampu mengaduk emosi. Langkah- langkah yang diambilnya  selalu berpegang pada syariat sehingga  setiap masalah mampu diselesaikan dengan baik . 

Di sisi lain, hal tersebut  bisa sebagai pembelajaran bagi pembaca dalam menyikapi kehidupan sesuai dengan ajaran Islam. Gambarannya seperti yang terdapat Dalam QS.An Nahl, binatang kecil namun istimewa, yaitu lebah. Hewan yang gigih dan pekerja keras, serta bermanfaat bagi makhluk lain.

Hal yang menarik lagi, novel ini mengambil latar Pulau Kalimantan.  Pembaca bisa turut merasakan alam, sosial dan budaya Kalimantan ( berikut kabut asapnya yang tebal dan menuai protes dari Negara tetangga ). Mungkin penulis  bermaksud menjadikan novel ini sebagai sarana rekreatif sekaligus edukatif, hanya terkadang paparannya terasa kaku sehingga kurang bisa dinikmati. 

Satu hal lagi,  margin samping pada novel ini perlu diperlebar, sehingga tidak terlalu ‘mepet ‘pada bagian yang dijilid, demi kenyamanan dalam membaca. :)

Judul                     : Lelaki Lebah
Penerbit                : Hasfa Publisher
Penulis                  : Mahmud Jauhari Ali
Tebal                     : 266 hal.
Terbit                    : 2011

10 comments:

www.mahmud-bahasasastra.blogspot.com said...

Terima kasih banyak telah menulis tentang Lelaki Lebah di blog yang menawan ini.

O iya, Lelaki Lebah sudah terbit ulang di Tuas Media. Tentunya dengan perubahan kover, perevisian isi, dan ISBN yang beda.

Yayun Riwinasti said...

Selamat datang...senang sekali dikunjungi penulisnya...:)
wah, ada banyak revisi ya ??
pastinya lebih mantap ...*nglirik celengan*
kalo banyak penulis yang menggarap khasanah lokal, pasti dunia novel Indonesia makin jaya.

www.mahmud-bahasasastra.blogspot.com said...

Ah, biasa saja. Saya masih belajar menulis novel kok. Terima kasih atas sokongannya. :) O iya, sila layari laman saya ya. Tentunya ziarahi pula isinya dan bolehlah Mbak Yayun Riwinasti menyusulkan komentar seayat dua ayat di sana.

Salam takzim saya haturkan dari Tanah Borneo. Semoga sukses selalu yeh. Tabik.

Yayun Riwinasti said...

sebenarnya saya sudah mengunjungi mas...lamannya berbobot sekali..:)

www.mahmud-bahasasastra.blogspot.com said...

Alhamdulillah jika demikian. O iya, tanpa mengurangi rasa hormat, saya mau tanya. Berapa lama selisih waktu antara pendaratan Lelaki Lebah di tangan Mbak Yayuk dan pemublikasian catatan di atas?

:):):)

www.mahmud-bahasasastra.blogspot.com said...

*Yayuk -> Yayun

Yayun Riwinasti said...

waduuh...berapa lama ya..?? sekitar sebulan yg lalu datangnya.kenapa mas?

*oya, sy punya yg selia jg...

www.mahmud-bahasasastra.blogspot.com said...

hmm ...datangnya dari mana? wah, tanya mulu nih saya, he he he ....

Yayun Riwinasti said...

dari hasfa publisher, paket hadiah.*kenapa sih kok tanyanya seperti agen intel penyelidik...he he..

hmm, ganti saya yg tanya ya...?

Saya sudah membaca Selia. Puisi pertama, "Mengajakmu " membuat saya ikut miris.

Hanya sedikit mengganjal dalam benak saya , bukankah puisi ini dikarang oleh si lelaki lebah? Karena seingat saya, puisi ini sempat dibaca Carmen di kantor Hafiz.Sama persis, hanya kata Tuan diganti dengan kata Selia.

Alhasil,seperti ada benang merah yang lepas. Selia bagi Hafiz hanyalah seorang gadis cantik yang pernah menabraknya saat kabut asap. Mengapa nama ini yang diabadikan? Apakah tidak membuat Latifah cemburu? ---hehe...ngawur..:)

www.mahmud-bahasasastra.blogspot.com said...

bagi saya, bertanya ialah sebuah pembuka yang baik untuk mempunyai pengetahuan. lalu apa salahnya bertanya? peneliti pun terkadang harus melakukannya. terutama di daerah pengamatan.

o iya, Selia ialah sosok yang sangat dikenal oleh orang-orang indonesia dan sebagian dari negeri-negeri lain. ya, dia sangat terkenal. bahkan, dia menjadi lebih terkenal tatkala dirinya menciptakan beberapa lagu dan dinyanyikan oleh para penyanyi kenamaan negeri indonesia (negeri tetangga). dia hebat.

berbezakah dengan apa yang ada dalam lelaki lebah?

novel itu, walaupun terinspirasi dari kisah nyata saya tatkala berada di perantauan sebagai peneliti bahasa, banyak rekadaya cerita di sana. misalnya antologi puisi tokoh cerita berjudul Bulan di Padang Lalang (BPL). pada kenyataannya, dalam BPL tidak ada puisi yang dibacakan Carmen itu. BPL terbit tahun 2009.

intinya, isi lelaki lebah dan selia tidaklah sama. saya hanya mencatumkan puisi-puisi saya yang terbaru saat itu dalam lelaki lebah. ya, selia yang menabrak si tokoh dalam lelaki lebah bukanlah selia sang pemimpin itu yang sekarang sedang berada di pucuk cemara berpagar mewah(dalam antologi selia).

saya rasa cukup apa yang saya paparkan. salam jabat erat dari saya di tanah borneo raya. tabik.

o iya, sila layari laman saya, yakni www.tuasmedia.blogspot.com. bolehlah menyusulkan komentar di saya. sila lawat yeh.

Post a Comment

thx for your comments..:)