Pages

Showing posts with label kebahasaan. Show all posts
Showing posts with label kebahasaan. Show all posts

Sunday, December 5, 2010

PIDATO

1.  Pengertian Pidato
     Banyak definisi atau pengertian yang dilontarkan oleh banyak pemikir retorika. Salah satu di antaranya adalah pengertian retorika yang disampaikan oleh De Vinne, yaitu bahwa retorika adalah studi tentang unsur-unsur, seperti susunan atau gaya bahasa, yang digunakan dalam tulisan atau pembicaraan; seni pengungkapan maksud efektif dan penggunaan bahasa yang persuasif. Sedangkan pidato menurut pengertioan De Vinne adalah seni atau proses melakukan pembicaraan di hadapan kelompok pendengar.
     Berdasarkan kedua pengertian retorika dan pidato di atas dapat disimpulkan bahwa pidato merupakan pengetahuan yang sangat canggih dalam hal berbicara di hadapan khalayak ramai dengan maksud dan tujuan tertentu.

2.  Tujuan Pidato
     Tujuan berpidato dapat dikelompokkan sebagaimana tersebut di bawah ini:
mempengaruhi pendengar,
menghibur pendengar,
menyampaikan pesan kepada para pendengar,
propaganda politik, dan
mengungkapkan percikan pemikiran kepada publik.

3.  Materi Pidato
     Materi pidato  terdiri atas beberapa hal yang tertata secara sistematis sebagaimana tersebut di bawah ini.

a.  Pendahuluan
     Pendahuluan pidato harus “padat”, bahasa yang diketengahkan mengandung daya tarik bagi para pendengar, serta merangsang untuk didengarkan terus-menerus,sehingga pendengar dibikin penasaran. Kalau hal tersebut berhasil, maka boleh dikatakan separuh dari keseluruhan pidato berhasil.
b.  Isi
     Isi pidato yang bagus harus disesuaikan dengan tingkat umur para pendengar. Misalnya pendengar tergolong generasi muda, generasi tua, cendikiawan, atau masyarakat awam. Isi dilengkapi dengan analisis yang masuk akal, bervariasi, sedikit ada lucunya (humor), dan tidak kalah penting peribahasa dan percikan pemikiran orang-orang besar kaliber dunia.
c.  Penutup
Inti dari penutup suatu pidato merupakan kesimpulan dari seluruh pembicaraan, beri pepatah dan humor yang menarik. Di samping itu suatu hal yang tidak boleh diabaikan dalam menutup pidato adalah harus menimbulkan kesan, sehingga para pendengar merasa kurang … .


4.  METODE BERPIDATO
     Dalam berpidato dikenal beberapa metode yang sering dipergunakan, sebagaimana tersebut di bawah ini.
a.  Metode Naskah
     Jika mempergunakan metode naskah, pada saat bepidato seseorang membaca naskah yang telah disiapkan sebelumnya. Metode naskah biasanya digunakan pada acara-acara resmi, misalnya pidato kenegaraan  oleh Presiden.
b.  Metode Menghafal
     Metode ini mengaharuskan seseorang yang akan berpidato untuk menyiapkan naskah yang kemudian harus dihafalkannya, sehingga materi pidato benar-benar bisa dikuasai.
c.  Metode Improtu/serta merta
     Metode ini biasanya digunakan pada waktu yang spontan/mendadak/tanpa persiapan berdasarkan kebutuhan sesaat.
d.  Metode Ekstemporan
     Metode ini merupakan metode yang paling sempurna. Dianjurkan ke[pada semua orang yang berpidato untuk memakai metode ini. Metode ekstemporan merupakan gabungan dari semua metode yang ada.

WAWANCARA

     Pada dasarnya wawancara adalah tanya jawab antara seseorang dengan orang lain atau antara seseorang dengan beberapa orang. Tujuannya adalah untuk menggali sebanyak-banyaknya informasi atau untuk menapatkan jawaban yang bernilai penting, menarik, dalam, dan secara psikologis berkaitan dengan manusia. Jawaban itu diharapkan benar-benar proporsional dan akurat.
     Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara itu dapat berupa pendapat, kesan, pengalaman, pikiran, dan lain-lain. Informasi itu dapat diperoleh dari orang yang memiliki otoritas, pakar, atau mempunyai “human interest” yang tinggi, serta orang lain yang dipandang layak untuk memberikan informasi. Informasi itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan opini, untuk memperkuat fakta peristiwa yang berasal dari manusia, sebagai bahan cerita, atau sebagai bahan penulisan biografi.
     Wawancara yang baik tentu akan menhasilkan berita yang baik. Oleh karena itu, kegiatan wawancara bukan sekedar menanyai seseorang kemudian menuliskannya. Kenyataannya, kegiatan wawancara memerlukan keahlian yang luar biasa dan memerlukan kualitas tertentu di pihak pewawancara. Untuk itu, perlu diperhatikan dan dipersiapkan ecara matang baik mental maupun masalah yang akan diperbincangkan.

Langkah –langkah dalam melaksanakan wawancara
1.  Tahap Persiapan
     Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan pada tahap ini adalah sebagaimana tersebut di bawah ini.
Menentukan masalah yang akan dibicarakan.
Menentukan arah permasalahan yang akan digali.
Menentukan orang yang akan diwawancarai, dengan kriteria yang jelas.
Mengenali sifat dan karakter orang yang akan diwawancarai.
Menghubungi dan membuat janji dengan orang yang akan diwawancarai.
Mempelajari permasalahan dan mempersiapkan pertanyaan dengan sebaik-baiknya.
Mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti bloknote, ballpoint, atau tape recorder.

2.  Tahap Pelaksanaan
     Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan pada tahap ini adalah sebagaimana tersebut di  bawah ini.
Kalau waktunya tidak mendesak/cukup dapat menggunakan pendekatan ridak langsung.
Pertanyaan diajukan secara langsung dan tidak bertele-tele.
Anda adalah orang yang bertanya, untuk itu hindari terlalu banyak berkomentar.
Mampu mempertahankan suasana agar wawancara santai, bebas, sopan, tidak tegang, serta menghindari terjadinya perdebatan.
Sebaiknya tidak terlalu banyak mencatat dalam bloknote, sebaiknya dicatat di dalam otak.
Mampu menjaga pokok persoalan dan tangkas dalam menarik kesimpulan.
Jangan segan menanyakan hal-hal yang sederhana jika memang hal itu tidak diketahui maknanya.
Apabila akan merekam pembicaraan sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu apakah diperkenankan untuk direkam.
Setelah selesai wawancara, ulangilah pokok tanya jawab untuk menghindari kesalahan penafsiran atau hal-hal yang kurang segera dapat diketahui.
Jangan lupa mengucapkan terima kasih setelah selesai melaksanakan wawancara.
Apabila ada keterangan yang dinyatakan secara “off the record” (tidak untuk disiarkan). Maka Anda harus benar-benar tidak menuliskannya dalam berita.

Tahap Penulisan Hasil Wawancara
Dalam kenyataannya hasil wawancara yang masih mentah baru berupa tulisan tentang kata-kata kunci atau inti jawaban orang yang diwawancarai. Sebagian yang lain masih berada di otak kita. Agar  wawancara itu kelihatan hasilnya, kita harus menyuntingnya menjadi tulisan yang utuh.
Ada dua bentuk yang dapat digunakan untuk menuliskan hasil wawancara, yakni bentuk tanya jawab dan bentuk berita atau laporan. Dengan bentuk yang pertama, hasil wawancara dapat ditampilkan secara utuh. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan tape recorder. Bentuk yang kedua, hasil wawancara dimasukkan ke dalam paragraf atau diletakkan di antara uraian dalam paragraf.

JENIS-JENIS PARAGRAF

Berdasarkan letak kalimat utamanya, dapat ditentukan jenis-jenis paragraf sebagaimana contoh tersebut di bawah ini.
1 Paragraf Deduktif
     Paragraf jenis ini mempergunakan pola pengembangan umum-khusus, kalimat utamanya terletak pada awal paragraf diikuti oleh kalimat-kalimat penjelas. Perhatikan contoh berikut.
     Kehidupan modern menuntut kita untuk selalu dapat meningkatkan daya saing. Tanpa kemampuan bersaing kita akan tergilas oleh modernisasi tersebut. Hal ini menjadikan sebagian besar dari manusia berebut kesempatan untuk menjadi yang terbaik. Siapa yang mampu memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya akan mampu tampil dan mempunyai pengaruh di hadapan banyak orang.

2        Paragraf Induktif
     Paragraf jenis ini mempergunakan pola pengembangan khusus-umum, kalimat utamanya terletak pada akhir paragraf. Pada bagian awal paragraf ini dimulai dengan kalimat-kalimat penjelas yang diakhiri dengan kalimat utama. Perhatikan contoh berikut.
     Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang dimiliki oleh seseorang seyogyanya bisa menutupi semua kelemahannya. Kadang banyak orang beranggapan bahwa yang dimiliki hanyalah kelebihan tanpa menyadari akan kelemahannya. Jika hal demikian selalu menjadi dasar berpikir, dapat dipastikan kehidupan kita menjadi penuh dengan keangkuhan. Untuk itu sebaiknya kita selalu dapat melakukan kontrol diri terhadap segala kelebihan dan kelemahan diri kita.

3        Paragraf Campuran
     Paragraf campuran dapat dibedakan menjadi paragraf deduktif-induktif, deskriptif, dan naratif. Paragraf deduktif-induktif merupakan paragraf yang dimulai dengan sebuah kalimat utama, diikuti oleh beberapa kalimat kalimat penjelas, dan diakhiri oleh sebuah kalimat utama yang  mempunyai ide pokok sama dengan kalimat yang pertama. Paragraf deskriptif merupakan yang tidak mempunyai kalimat utama, semua kalimat pembentuknya merupakan kalimat-kalimat penjelas, atau semua merupakan kalimat utama. Sedangkan paragraf naratif merupakan yang sering dipergunakan untuk menuliskan sebuah cerita/prosa.
Perhatikan contoh-contoh di bawah ini.

a.  Paragraf Deduktif-Induktif
     Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia dapat dikatakan relatif sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan oleh para pakar pendidikan. Di antara bentuk-bentuk penyesuain itu adalah adanya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang baru, diberlakukannya kurikulum tahun 2004 yang berbasis kompetensi dan kecakapan hidup (life skill). Di samping itu juga adanya kabar gembira karena dana anggaran pendidikan akan dinaikkan menjadi 21%. Tentu saja saja hal ini dapat dikatakan pertanda perkembangan baik dunia pendidikan di Indonesia.

b. Paragraf Deskriptif
     Kebudayaan bangsa merupakan aset yang harus dilestarikan. Kebudayaan bangsa berwujud berbagai macam seni tradisi, adat istiadat, dan bahasa daerah. Indonesia dikenal sebagai sebuah negara yang mempunyai banyak sekali aset budaya daerah yang patut dilestarikan. Kebudayaan nasional menjadikan bangsa Indonesia menjadi salah satu bangsa yang termasyhur di dunia.

c.  Paragraf Naratif
     Setiap orang di tempat itu seolah-olah merasa cemburu terhadap kaki Adi. Tiada putus-putusnya mereka mengawasi kaki Adi serupa pada kaki Adi ada melekat hal-hal yang menakjubkan. Kaki Adi rupa-rupanya benar-benar merupakan acara yang demikian menarik perhatian, hingga walikota pun tiada terjecuali ikut mengawasinya, meski dengan pandangan mencuri-curi.

Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah bahwa dalam setiap paragraf yang baik hanya terdapat sebuah ide pokok. Jika terdapat dua buah ide pokok dalam sebuah paragraf sebaiknya dipisahkan dan ditempatkan dalam paragraf yang berbeda.