Pages

Showing posts with label diva. Show all posts
Showing posts with label diva. Show all posts

Saturday, March 19, 2011

Orang Miskin Dilarang Sekolah..???...Ow , Tidak Bisa..!!!

-  Satu pengalaman baru, ternyata bisa membaca itu menyenangkan -

Faisal, pelajar kelas tiga SD Kartini, merasakan bahwa memiliki ilmu, menjadi pintar itu sungguh sangat menguntungkan. Apalagi guru ngajinya juga mengatakan bahwa orang yang berilmu itu akan dinaikkan derajatnya. Ilmu itu akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan manusia. Karena hal itulah, hati Faisal terasa miris melihat tiga sahabatnya di  Gedong Sapi tidak merasakan bangku sekolah seperti yang dialaminya.

Pambudi, Yudi, dan Pepeng  adalah  tiga sahabat Faisal, anak- anak  alam yang cukup bahagia menjalani hidup bersama orang tua mereka "hanya " sebagai pembantu Yok Bek, orang Cina pemilik peternakan sapi perah, yang dikenal dengan sebutan Gedong Sapi. Meski setiap hari harus bergaul dengan gunungan kotoran sapi berikut lalat hijau yang mengerubunginya, ditambah umpatan kasar yang harus diterima jika pekerjaan mereka dirasa kurang tepat, itu semua tidak pernah menjadi soal. Hidup mereka sudah terkondisi untuk mengabdi sejak kakek moyang dahulu. Tidak pernah terbersit dalam angan bentuk kehidupan yang lain.

Hingga Faisal menyuntikkan kesadaran akan nikmatnya bersekolah, terangnya cahaya ilmu, dan banyaknya mimpi yang bisa diraih dengan ilmu tersebut. Akhirnya, anak- anak  alam itu memiliki keberanian untuk menyampaikan aspirasi , meminta haknya untuk mendapat pendidikan.

Dengan bantuan Faisal, tanpa kesulitan mereka diterima di kelas satu SD Kartini. Bu Mutia, guru yang sangat inspiratif, menerima mereka dengan senang hati. Namun, ternyata tidak mudah menjalani kehidupan sosial di lingkungan baru. Tas mereka yang dari karung, sandal jepit, dan seragam lusuh yang dibeli dari tukang loak menjadikan mereka "berbeda ". Banyak tantangan yang harus mereka hadapi agar bisa terus sekolah.

Novel ini menyoroti kemiskinan dari kacamata anak -anak. Di tengah arus pembangunan dan modernisasi daerah perkotaan masih tersebar banyak anak yang tidak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan. Disamping kesadaran yang belum tumbuh, belitan kemiskinan menghalangi keinginan mereka. Hanya mereka yang bertekad baja dan bermental kuat lah yang berhasil  menyelesaikan pendidikan.

Ketika membaca bagian awal novel ini, warna dan gaya deskripsinya mengingatkan pada Laskar Pelangi yang sangat fenomenal. Dan ternyata memang novel ini lahir setelah penulisnya terinspirasi karya tersebut. Saya paling suka pada bagian ketika Faisal berpura - pura kesurupan jin Belanda , agar Pak Cokro, si dukun kampung Genteng berhenti mengganggunya. Saya juga jadi penasaran dengan rasa jus kresen favorit Faisal. Namun, terkadang saya juga mengerutkan dahi, seperti ketika  membaca   surat yang ditulis Pambudi untuk Kania. Sebagus itukah untaian kalimat anak yang baru saja mengenal dunia huruf ? atau ketika mengetahui materi matematika kelas satu mereka, seperti  pecahan desimal, seberat itukah ?

Yang jelas, membaca novel ini menjadikan diri lebih bersyukur mendapatkan kemudahan mengenyam pendidikan.Kemudian, seperti pesan yang tertulis di awal novel " Jangan takut untuk bermimpi besar"  . Hadapi setiap tantangan dalam kehidupan ini dengan senyuman. :)

Terima kasih kepada komunitas diva press yang telah menghadiahkan novel ini untuk saya..:D ..*ditunggu yang berikutnya...:)


Judul      : Orang Miskin Dilarang Sekolah
Penerbit : Diva Press
Penulis   : Wiwid Prasetyo
Tebal      : 450 hal.
Edisi        : Cetakan 5, Maret 2010

Friday, February 25, 2011

“ BERCINTA DALAM TAHAJJUDKU “

Novel  religius ini berlabel  ‘best  seller’ di kover depannya.  Menilik sejak dari cetakan pertama bulan Agusus  2010 sudah 3 kali cetak, memang label itu tidak mengada – ada.

Bab 1, pembukaan novel ini , disajikan  dengan  apik, dengan teknik flash back yang membuat pembaca bertanya- tanya, “ Siapa Bangga as- Salam ? “ dan ” Siapa perempuan muda yang tampak sangat berduka di sisinya ?” ….

Tokoh utamanya adalah Kisi Carissa, seorang gadis yang manja, emosional, dan  berlimpah kasih sayang dari orang tuanya,  namun jauh dari ajaran agama Islam yang kaffah.  Hidupnya ditimpa berbagai ujian berat yang bertubi – tubi. Diawali dengan kematian tiba- tiba papa terkasih yang sangat dekat dengannya, hingga berbagai peristiwa tragis yang di satu sisi membuatnya semakin mengenal ajaran islam.

Banyak bertebar ajaran Islam  yang bisa ditemukan pembaca. Seperti seni menjaga hati kepada lawan jenis, niat ikhlash karena Allah, renungan kematian, kesabaran dan tawakal dalam menghadapi ujian hidup, juga indahnya ketika berhasil memaafkan orang yang  sangat dibenci.

Namun, seperti pepatah tak ada gading yang tak retak, beberapa peristiwa dalam novel ini  terkesan agak tidak realistis. Misalnya, pada saat kematian papanya . Dikisahkan Kisi dan mamanya dikejutkan dengan datangnya ambulans yang  tiba – tiba membawa jenazah papanya yang sudah terbungkus kain kafan. Umumnya, setahu saya,  ketika seseorang baru tertimpa kecelakaan, apalagi novel ini sudah ber- setting 2007, pasti keluarganya dikabari terlebih dahulu. Entah dari pihak kepolisian, rumah sakit, atau orang2 yang menolongnya, sembari mengurus proses administrasi di rumah sakit. Iya nggak sih ?  Penggambaran kesedihan  Kisi dan mamanya pun terasa kurang. Kesannya terlalu mudah untuk  menerima tragedi ini.

Demikian juga dengan keterkejutan Bangga tentang terbukanya identitas Mauricio Iglesias  yang ternyata seorang atheis. Dialog antara Bangga dan Mauricio terkesan seadanya.  Begitu juga dengan ketidaktahuan Kisi dan mamanya tentang sholat apa yang dilaksanakan pada malam hari. Rasanya jarang ada yang belum tahu tentang sholat tahajud, di negeri yang mayoritas muslim ini. Mengingat hampir di setiap RT ada kelompok ibu pengajian, di sekolah pelajaran agama juga diajarkan sejak SD, tetangga mereka juga seorang haji, dan Kisi pun sering berangkat sholat tarawih di masjid.

Lepas dari itu semua, novel ini banyak memberi pesan religius dalam kehidupan pembaca. Yang pasti sabar dan tawakal dalam menghadapi cobaan hidup. Endingnya pun disajikan   yang tak kalah apiknya  dengan pembukanya. Penasaran..?..:)


Judul               : Bercinta dalam Tahajjudku
Penulis            : Anshela
Penerbit          : Diva Press
Terbit              : Cetakan III, Desember 2010
Tebal              : 216 hal.

Foto diambil dari
http://divapresspublisher.wordpress.com/2010/08/06/bercinta-dalam-tahajjudku-2/